Affordable Heart

Pernahkah kamu menyadari bahwa ada dia yang selalu setia menemani setiap langkahmu tanpa perlu diminta. Meluangkan untuk menulis ini menyadarkan dia bahwa kamu adalah pria dengan kepala batu. Yang akrab dengan diam seolah takut merasakan sakit. Tak inginkah kamu meluangkan waktu untuk menengok hatinya walau sejenak?
Terbangun dia dengan sebuah momen syahdu. Terbangun dari hibernasinya, merasakan tanpa dapat memandangi sesuatu yang perlahan bentuknya tidak sama. Ada luka yang di sudutnya dan tidak mampu untuk mengumbar tawa.
Apakah ini merupakan kesepakatan antara kamu dan dia?
“Bertahanlah”.
Ucapkanlah dengan lantang.
Dia mengetahui bahwa kamu adalah seorang pria sehangat matahari pagi. Yang sesekali menceritakan segala mimpi dan harapan baik. Tapi saat ini, kamu sepertinya lebih percaya kepada firasat hatimu, dan enggan berjuang melawan keheningan yang meliputi. Menghitung puluhan pukulan yang masuk ke hati dengan beruntun.
Dia hanya tahu, kehilangan dan rasa sepinya hanya bisa dilawan dengan doa tanpa menyisakan air mata. Tak ada yang perlu disalahkan. Kita hanya sepasang manusia yang sedang berjalan di lain cabang. Tak perlu ada kesedihan.
Jangan membuat dia berpikir bahwa dirinya merupakan tanah persinggahan. Kita pernah hidup berselimut rindu. Janganlah berdebat siapa yang salah dan siapa yang menang dalam perlombaan soal perasaan. Sekarang giliran kita bagaimana bertahan dengan apa yang pantas diperjuangkan.
still-life-photography-023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *