Hujan tak berkata, hujan jangan marah

Hujan yang turun siang ini mengalahkan sepi. Mendendangkan rintik syahdu walau tak menyayat hati. Merenungkan perjalanan hidup seorang musafir wanita. Sang wanita menengadahkan wajahnya, membiarkan hujan membasuh wajahnya yang sehabis menangis. Tangannya menggenggam sebuah harapan di tengah kesendirian.
Hari ini di bulan Juli, saat musim tak lagi dapat diprediksi. Sepi bersama alam, tak ada suara burung gereja yang terdengar sayup di kejauhan. Kembali ia menangis tersedu. Hidup sebatang kara membuat ia rapuh.
Kemudian ia melanjutkan perjalanan, menyelusuri kota. Bibirnya pucat karena kehujanan, rambut panjangnya tak lagi rapi. Angin sungguh baik, membisikkan kata-kata penyemangat. Bahwa masih ada harapan di ujung pelangi, tapi dimanakah dapat menemukan pelangi. Rasanya terlalu sulit untuk berjumpa dengannya, apakah kaki ini masih dapat melangkah?
Terkadang harapan yang dibawa suka melampaui batas normal. Menghujani setiap impian dengan balon warna warni seakan semuanya dapat terpenuhi.
Lirih syahdu kembali terdengar..sang wanita tak lagi bergerak. Kaku di tengah keramaian kota, membentuk sebuah kubikal sederhana berisi orang-orang yang sok perhatian. Mengelilingi, berkata tapi tak ada usaha.. Aku bukan tontonan, jangan kasihani aku.. Air mata pun mengalir lembut di wajah.

20140712-130036-46836724.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *